Dalam perjalanan menuju kantor tadi pagi, saya melewati sebuah Sedolah Dasar. Anak-anak berseragam SD berlarian dan bermain di lapangan yang merupakan area sekolah tersebut. Seketika saya ingat masa-masa saya melewati tingkat sekolah dasar. Dan sepanjang perjalanan setelah itu, pikiran saya mengembara kembali ke jaman SD dan saya jadi ingat ketika pertama kali saya suka (atau tertarik) pada lawan jenis. Itu terjadi ketika saya SD juga.
Ada yang ingat pada tokoh Shadam yang diperankan oleh Derby Romero di Film “Petualangan Sherina”?
Nah, saya ini kebalikan dari Shadam yang bandel di sekolah tapi anak mami di rumah itu. Kalau di kompleks perumahan, saya terkenal sebagai ketua geng anak-anak cewek, berani, bandel, dan tomboy. Ibu saya banyak mendapat keluhan dari ibu-ibu tetangga soal betapa seringnya saya “melanglang buana dari pagi sampai sore” dan “nongkrong di atas pohon seharian” yang hanya di tanggapi senyum kecil oleh beliau.
Tapi di Sekolah, saya sangat-sangat-sangat tidak menonjol. Saya adalah anak “tidak terkenal” atau “terbuang”, teman saya hanya beberapa, yang juga termasuk “anak-anak terbuang”. Entah kenapa bisa 180 derajat berbeda begitu, saya yang aktif di rumah, bisa menjadi sangat pasif dan pendiam di sekolah.
Lain hal dengan si L. Cowok ini adalah “seleb sekolah”. Sudah dia berasal dari keluarga kaya raya yang ayahnya sering dinas ke luar negri, dia juga pintar (selalu di peringkat kedua satu angkatan), dan juga memiliki wajah yang imut-imut. Idola sekolah dan anak kesayangan para guru. Lengkap sudah.
Tapi jangan salah, bukan karena hal-hal tadi itu yang membuat saya tertarik dengan L. Saya selalu bersikap skeptis dengan para “idola sekolah” termasuk dia, sampai ketika saya kelas 4 SD. Suatu siang di hari yang panas, seusai pelajaran olah raga. Saya dan beberapa anak-anak sekelas lainnya sedang berkumpul di depan kelas, masih lengkap dengan seragam olah raga kami. Di depan kelas saya, ada palang yang biasa di gunakan anak-anak untuk olahraga. Palang itu lumayan tinggi untuk anak seusia kami waktu itu. Entah ide siapa asalnya, anak-anak kelas saya memutuskan untuk unjuk keberanian bermain di palang itu.
Anak-anak cowok tentu saja bergiliran mencoba. Tapi anak cewek tidak ada yang berani. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja saya maju untuk mencobanya. Dan saya berhasil meraih palang tersebut. Berayun sebentar di atasnya.
Dan jatuh.
Semua orang disitu tertawa.
Menertawakan saya yang mengaduh kesakitan terduduk memegangi pantat saya yang sakit karena mencium tanah lapangan yang keras itu.
Wajah saya merah menahan malu, sekaligus menahan tangis.
Ketika air mata hampir tumpah, seseorang berteriak dengan lantang,
“Eh, dia hebat ya! Anak cewek yang aku lihat bisa naik di palang itu baru dia aja lho! Hebat deh!”
Dan tawa itu pun reda seketika, Saya mendongak. Dan mendapati semua anak-anak yang tadi menertawai saya mengangguk dan tersenyum, saling bergumam “iya ya,iya ya,”
Lalu cowok yang berteriak tadi mengulurkan tangannya untuk membantu saya berdiri. Tersenyum tulus.
Dan cowok itu adalah L.
Sejak itu saya menjadi kagum terhadap L.
Bukan karena dia tajir, atau pintar, atau tampan. Tapi karena kebaikan hatinya, Idola sekolah yang masih mau berteman dengan anak-anak terbuang seperti saya.
Kemudian seperti yang seharusnya terjadi, setelah lulus, saling menghilang. Kabar terakhir yang saya punya tentang dia adalah dia ikut pertukaran pelajar ke UK.
Dan saya menemukan akun friendster-nya. Kalau bertemu sekarang, saya tidak menyimpan perasaan khusus apa-apa terhadapnya. Tidak suka, cinta, atau bahkan mungkin kagum. Biasa saja.
Cuma setiap mengingat cerita “jatuh dari palang” itu, rasanya berbeda. Entahlah, sulit di deskripsikan. Mungkin itu yang disebut kenangan, meninggalkan kesan karena ia terjadi di masa lalu, dan hanya akan tetap menjadi masa lalu.
*halahhhh ngomong apa sih saya ini…* XDD


